Showing posts with label puasa. Show all posts
Showing posts with label puasa. Show all posts

Jalan yang Paling di CARI !!!

Setiap kita berjalan di muka bumi ini banyak pilihan, begitulah pepatah juga menyatakan hidup adalah pilihan. Mau ke jalan yang kanan or yang kiri, manakah jalan yang akan kita pilih ???

Sebuah kalimat bijak menyebutkan, “Semua perjalanan adalah perjalanan kejiwaan.” Kita adalah jiwa yang sedang hidup di alam raga. Menurut Teilhard de Chardin, “We are not human beings having a spiritual experience, we are spiritual beings having a human experience.” (Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah “makhluk bumi” melainkan “makhluk langit”).

Menyandar spiritualitas kejiwaan sebagai sentral kehidupan manusia, Islam menekankan perlunya terus membina dan menjaga konstelasi dan integritas spiritualitas tersebut. Sayangnya, sebagai makhluk spiritual kita kerap “terjebak” pada fisik, emosi, dan pikir, manusia kurang memperhatikan jati dirinya yang sejati.

Pada kondisi inilah Ramadhan dihadirkan oleh Allah SWT. Bulan yang dijadikan sarana untuk kembali menemui dan mengasah jati diri sejati, spiritual. Proses pengendalian diri sebagai inti dari puasa telah menempatkan manusia kembali pada posisinya yang tepat. Melepaskan semua belenggu-belenggu fisik, emosi, dan pikiran yang kerap mengontaminasi spiritualitasnya. Karena, sesungguhnya saat manusia mampu melepaskan diri dari ketertawanan fisik, emosi, dan pikir, maka ia seolah terlahir kembali dari rahim ibunya. Bersih tanpa noda sedikit pun

“Barangsiapa yang melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan penuh harap kepada Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu.” (HR Bukhari dan Muslim). Begitupun, bila puasa yang dilakukan hanya sebatas fisik semata, tidak mampu menelisik hingga ke relung-relung jiwa, maka ia tak akan memperoleh apa pun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga semata. (HR An-Nasai).

Dalam konteks manajemen hidup, Ramadhan memberikan banyak pelajaran. Di sini, kita mampu menemukan kesejatian diri. Menyambut kehadiran Ramadhan dengan suka cita, sebagaimana mengisinya dengan gembira dan penuh antuasias, sesungguhnya menjadi awal pembuka kebahagiaan abadi sebagai puncak kesuksesan diri yang dicari manusia.

Mampu memanfaatkan Ramadhan sebagai bagian ibadah terindah, berbagi yang terbaik, dan berjuang dengan sepenuh hati, merupakan mekanisme perjalanan jiwa menuju kesejatiannya. Menemukan diri yang sebenarnya. Itulah diri spiritual.

“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. Puasa itu adalah perisai. Jika datang hari puasa seseorang di antara kalian, maka janganlah ia berkata rafats dan jangan memaki. Jika ada orang memakinya atau memancing berkelahi, hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa'. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangannya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada wangi misik. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: jika ia berbuka, ia berbahagia; dan jika ia bertemu Tuhannya, ia berbahagia karena puasanya.” (HR Bukhari, Muslim, an-Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad). (vivanews, A Riawan Amin)

Bulan ramadhan sudah berakhir, bulan syawal tiba dan tingkatkan amaliah ibadah kita...yuuuk
More about → Jalan yang Paling di CARI !!!

Belajar hidup dari KUPU - KUPU

Kita sudah mengetahui hewan KUPU - KUPU, lantas apa yang perlu dipelajari dari kupu - kupu ?
Kupu-kupu adalah hewan yang sangat indah dan menarik. Sayapnya yang berwarna-warni dengan motif yang sangat rapi serta kelincahannya terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, menjadi daya tarik bagi setiap orang untuk mengagumi makhluk ini.
Kupu-kupu tak hadir begitu saja ke muka bumi, tapi melalui proses metaformosis dari binatang yang bernama ulat. Menyebut namanya, mungkin ada sebagian orang yang jijik, geli, takut, penyebab kulit gatal, perusak tanaman, dan sebagainya. Ia begitu identik dengan sifat yang tidak baik. Hampir tak ada orang yang mau menyentuhnya.
Namun, ketika seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, semua orang pun berusaha memilikinya dan bahkan mengaguminya. Mereka tak merasa takut dengan seekor kupu-kupu yang sesungguhnya berasal dari ulat. Itulah kupu-kupu. Hewan yang indah dan menarik. Makanannya pun bahan pilihan, dan selalu membantu proses penyerbukan tanaman.
Untuk menjadi kupu-kupu, ulat terlebih dahulu menjadi kepompong. Itulah sebuah metamorfosis, yang dalam bahasa manusianya sedang menjalani puasa, menjauhkan dari dari makan dan minum, menutup dirinya dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Ia begitu mirip dengan cara kita beriktikaf, yaitu merenung diri dan melakukan pertobatan, sehingga keluar menjadi kupu-kupu yang indah, disayang semua orang dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Itulah barangkali gambaran puasa Ramadhan yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang beriman. Kita, umat manusia yang banyak berbuat salah dan dosa, hendaknya biasa belajar dari ulat dan mengubah diri menjadi manusia yang bertakwa dan disayang Allah SWT.
Tipe manusia yang disayang Allah itu adalah; pertama, orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tidak sombong) dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS Al-Furqan [25]: 63).
Demikianlah gambaran orang mukmin yang berpuasa, senantiasa menyebarkan kelembutan dan keindahan, serta tidak suka berbuat keonaran dan kerusakan, di manapun dia berada. Sebagaimana sifat kupu-kupu yang hinggap di sebuah dahan yang tak akan pernah ada yang patah sekecil apa pun dahan yang dihinggapinya.
Kedua, mereka yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dan shalat tahajjud di malam hari sebagai wujud syukur kepada Allah (Al-Furqan [25]: 64, 73). Seperti kupu-kupu, di manapun seorang mukmin berada, dia akan selalu melaksanakan perintah Allah, menebarkan kasih sayang, dan menolong orang lain. Sebab, ia menyadari bahwa sesungguhnya dirinya hanyalah seorang hamba yang juga tidak memiliki kemampuan apa-apa tanpa anugerah dari Allah SWT.

Ketiga, orang yang berhasil dalam puasanya, ia akan memilih  makanannya dari yang halal dan yang baik-baik saja, layaknya kupu-kupu yang hanya memilih sari madu bunga sebagai makanannya. Orang yang berpuasa dan mukmin sejati, akan senantiasa menjauhkan diri dari yang haram, seperti korupsi, mencuri, menipu, dan lainnya. (QS Al-Baqarah [2]: 168).

Sebentar lagi hari kemenangan akan tiba, hari raya idul Fitri hari yang penuh kebahagiaan layaknya kupu - kupu terlepas dari kempongpong dan terbang dari bunga yang satu ke bunga yang lain mencari makanan...ini menggambarkan kita harus saling bersilaturrahmi.

Alangkah indahmu wahai kupu - kupu makhluk tuhan yang cantik dan imut.

sumber : www.republika.co.id
More about → Belajar hidup dari KUPU - KUPU